Arbi Delfian – Terjebak kata
Kata-kata adalah senjata
siap melukai
siap menembus
siap membius
siap menerjang
siap menggoresi
siap menyayati, dan
Apabila
semua itu bsia dimaknai maka engkau akan menemukan semua peri
peri kebehagiaan
peri keindahan
peri kesempurnaan
Kata-kata adalah obat
adalah dokter
adalah ambulan, dan
adalah kesembuhan
Karna
kata-kata adalah jalur menuju titik yang satu yaitu "Kelebihan".
-::-
Dia esok
akan pergi membuang sepi
membuang luka
membuang duka
membuang manja, dan
membuang koin-koin
Dia akan
menggali benih
menggali kebahagiaan
menggali pengalaman, dan
menggali semua ilmu di tanah yang baru ia pijaki
Dia sedang
membayang semua lukisan
lukisan awan
lukisan langit
lukisan bintang, dan
lukisan hati
Semua
terlihat samar-samar
tidak jelas
tidak berharga
tetapi dari semua itu
hanya ada makna
dibalik lukisan kata
-::-
Hati tak
perlu balas dendam
tak perlu belas kasihan
tak perlu kekecewaan
tapi yang ia inginkan hanya kebahagiaan dan segelincir senyuman
Dia tak akan
menangis
tak akan besedih
tak akan meminta pamrih
Ia hanya
perlu menyimpan itu semua
di dalam tubuh
di balik dada, dan
di dalam hati
Ia akan
menyimpan itu semua di otak kanannya hingga terisi penuh dan akhirnya tumpah
dan kembali seperti semula.
Di putarinya
semua alinea
di hinggapinya semua kata-kata
di lihatnya semua huruf-huruf buta, dan
di simpannya sejuta makna
Tak cukup satu saja jalan yang ia pijaki
Tak cukup satu gunung yang akan ia daki
Tak cukup satu hati yang nantinya akan bersemi
Jauh pergi semua mimpi
Jauh pergi semua bidadari
Jauh pergi semau hati, dan
Tak kan jauh semua sepi
Karna sepi akan selalu menemani
-::-
Hatiku cuma bisa dihitung jari
Langkahku juga bisa dihitung kaki
Tapi cintaku kini hanya bisa dihitung senti
Dulu begitu
keras
keras dari pada bata
dari pada beton
dari pada batu
dari pada besi
Dulu begitu
panas
panas dari pada aspal
dari pada lahar
dari pada matahari
dari pada neraka
Tapi kini
sudah begitu dingin
dingin dari pada air
dari pada es
Mungkin ini
semua sudah melebur
terberai
terlempar, dan
akhirnya terkapar
-::-
Berdiri
dengan satu kaki
Menggapi
dengan sebelah tangan
Mendengar dengan
sebuah telinga
Dan bercinta
dengan satu hati
Sepi kini
telah beranjak dari kediamannya
Dia kini
tidak lagi berada di hati yang satu
Tetapi dia
kini telah mencoba menemukan hati yang baru
Tak perlu
jauh dia mencari
Hati kini
berserakan
Semakin banyak
hati yang ia temui
Maka ia
semakin berhati-hati
Dia bisa
memilih
dia bisa
terpilih
dia juga
bisa saling memilih
Dia akan di
panah atau
dia yang
akan memanah
Dia akan
bermimpi atau
dia yang
akan dimimpikan
Dia akan
mempunyai hati atau
dia yang
akan membuang hati
Dia tak
perlu berlari
dia cukup
berjalan tapi pasti
Dia tak
perlu mencucurkan keringat
dia cukup
membuang air liurnya
Dia tak
perlu terbang
dia cukup
duduk dan termangu begitu saja
Dia tak
perlu menoleh, dan
dia tak
perlu meraba
Karna itu
semua hanya sebuah minpi yang tak mungkin di dapatkan kecuali dengan Kuasa
Tuhan.
-::-
Bukannya ku
tak ingin di cinta
tapi ku tahu
semua itu telah tiada
pergi jauh
ke langit ke tujuh, dan
ku tahu
hanya bidadari barulah yang akan mengisi sepi surga di dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar